“Besok kamu ke Boven Digoel!”
Intruksi itu datang dari Pak Darwaji, mantan Wapinwil Operasional di Kanwil Jayapura yang memintaku untuk mengawal proses bantuan sosial penyaluran Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) Program Keluarga Harapan di Kabupaten Boven Digoel.

Saya tersenyum dan berterima kasih. Selintas di kepala terputar imaji dari cerita Tan Malaka yang diasingkan ke Boven Digoel setelah pemberontakan PKI pada tahun 1926.

Tentu menjadi sebuah kesempatan berharga, bisa melihat langsung rupa Digoel, tempat gagasan kemerdekaan Indonesia pernah dibungkam oleh pemerintah Hindia di bawah kepemimpinan Johanes Graaf Van Den Boosch.

Saya ingat betul, mata saya basah sekali sewaktu membaca halaman terakhir novel Tan yang ditulis Hendry Teja. Tahun 1926 pemberontakan PKI pecah, ia dihianati teman seperjuangan, dan diasingkan ke Boven Digoel.

Dari kisah pengasingan Tan Malaka, saya kemudian membaca kisah pengasingan lain milik Bung Hatta, Sutan Syahrir, Marco Kartodikromo, dan Thomas Najoan. Ada banyak kisah pilu dan keteladanan di sana.

Kemudian, persiapan keberangkatanku ke Boven Digoel adalah sesuatu yang amat sangat kunanti datangnya.

Dari Jayapura, saya menumpang pesawat jenis Avions de transport régional (ATR) milik Trigana Air. Tidak banyak penumpang di pesawat tersebut. Dua pramugari yang bertugas di pesawat juga terlihat santai, tidak mondar-mandir seperti pramugari di pesawat Boeing. Perjalanan ditempuh kurang lebih 1 jam menuju Bandar Udara Tanah Merah.

Saya bingung sekali ketika mendarat di Bandar Udara Tanah Merah. Minim sekali papan informasi, beberapa detik setelah turun saya mengamati arah pergerakan gerombolan penumpang. Mereka menuju bangunan kecil jauh dari landasan. Sebagai gambaran, bangunan ini mungkin luasnya seperti tiga petak kamar kosan yang berukuran masing-masing 4×5 meter. Ternyata di sinilah ruang pengambilan bagasi dan tempat penumpang menunggu keberangkatan.

Sementara saya mengambil bagasi, di luar bangunan sudah menanti rekan kerja yang akan mengantar saya ke Kantor BRI Unit Boven Digoel. Dasar pengingat yang buruk, saya lupa mencatat nama mereka. Tidak banyak yang saya lakukan, selain mengantarkan kartu, dan membantu menjelaskan cara penggunaan kartu tersebut kepada keluarga penerima bantuan. Sehingga, banyak kesempatan untuk mengabadikan gambar dan merekam sebaik-baiknya Boven Digoel di ingatan.

Mungkin tidak semua orang akan betah tinggal lama-lama di Boven Digoel. Saya sering menemui diri sedang gusar karena jaringan internet maupun telepon di Boven Digoel sangat buruk. Untuk mengirim dan menerima informasi, saya harus sering-sering menumpang wifi Brisat (satelit) yang sudah dihubungkan di kantor BRI KCP Boven Digoel.

Namun demikian, hidup terasa tenang di sini. Banyak perantauan dari Jawa dan Sulawesi yang datang untuk berdagang dan membuka warung. Saya sempat tercengang ketika menemukan Warung Nasi Padang yang bersebelahan dengan Warung Coto Makassar. Setelah saya usut lebih lanjut, ternyata empunya masih satu famili. Si suami perantau dari Makassar dan si istri perantau dari Padang. Sungguh sebuah kolaborasi dan upaya apik dari proses asimilasi budaya.

Untuk fasilitas publik, Boven Digoel hampir punya semuanya. Kantor-kantor pelayanan publik semisal kantor polisi, bank, rumah sakit, sekolah, kantor Pos, dan bandara berdiri berdekatan, jaraknya mungkin tidak akan menghabiskan satu lagu Payung Teduh.

Kursi-kursi mulai dipadati oleh orang-orang yang akan mendengarkan pemaparan dari Dinas Sosial mengenai program keluarga harapan. Dari semua undangan yang disebar, tidak semua keluarga penerima bantuan datang. Ada juga yang datang tetapi tidak diundang. Beberapa kali petugas Dinas Sosial pun harus minta maaf kepada hadirin karena kriteria miskin yang ditetapkan dirasa kurang pengkinian karena mengacu pada data sensus tahun 2010.

Kegiatan hari itu berjalan lancar. Saya menyempatkan diri untuk berkeliling pada malam hari di Boven Digoel. Tidak banyak yang bisa dilihat. Rumah-rumah penduduk jam 8 malam kebanyakan sudah tutup dan minim penerangan, namun aktivitas di sekitar jalan trans masih ramai. Banyak kendaraan lalu-lalang. Beberapa kendaraan besar dobel gardan terparkir di sekitar pasar. Mereka adalah mobil angkutan menuju Merauke melalui jalur darat. Begitu diceritakan tentang jalan berlumpur Boven Digoel – Merauke, mata saya langsung berbinar: Wah, sebuah petualangan!

Saya pun tidak jadi memesan pesawat kembali ke Jayapura. Saya memilih bergoyang di jalanan penuh lumpur menuju Merauke. Malam itu juga, saya memesan satu seat di mobil Hilux untuk keberangkatan besok sore. Harganya 500- 700 ribu per orang tergantung jumlah muatan.

Di Boven Digoel, saya menginap di Hotel Idaman. Hotelnya bersih dan nyaman. Disiapkan air panas dan AC di kamar saya. Berbaring dibawah AC setelah hari sibuk yang panjang di hotel paling idaman Boven Digoel adalah suatu nikmat yang saya syukuri.

Esok harinya setelah sarapan, saya dikontak oleh Asrul, BRI Account Officer di Boven Digoel, dia mengajak saya untuk berpesiar di sekitar Digoel. Ini yang saya tunggu! Lokasi paling pertama yang saya kunjungi adalah Bangunan Cagar Budaya Bekas Penjara Boven Digoel. Bangunan ini persis berada di samping Bandar Udara Tanah Merah. Kami disambut oleh patung besar Muhammad Hatta berdiri dengan telunjuk tangan kanan menunjuk ke bawah. Entah apa artinya.

Tidak ada siapa-siapa saat kami tiba di sana. Komplek penjara cukup tertata dengan baik. Kami bisa keluar masuk leluasa. Hampir tidak ada papan informasi yang bisa menjelaskan sejarah penjara ini. Misalnya daftar nama ex-digulist yang pernah diasingkan di sini, dan di bilik mana mereka bermukim, kecuali papan kecil di kusen pintu ‘Capaciteit’ yang menjelaskan kapasitas huni setiap bilik.

Di dalam setiap bilik, terdapat lemari yang berisi peralatan makan dari bahan enamel. Kuduga masih asli, begitupun konstruksi dan rangka bangunan di setiap biliknya. Sebagai rahim dari banyak pejuang kemerdekaan, situs cagar budaya Boven Digoel amat sayang bila dibiarkan begitu saja. Saya cukup bisa membayangkan bagaimana penjara ini berdiri pada tahun 1927. Ancaman malaria, suku asli yang bisa saja menjadi kanibal, dan sungai Digoel yang menjadi harapan untuk kabur meski dipenuhi buaya, menjadikan hari-hari berat di sini. Lalu, perasaan kesepian dan terbuang adalah yang paling mematikan.

Tidak jauh dari situs penjara Digoel, terbentang Sungai Digoel yang dikisahkan banyak buayanya. Meski penuh rasa haru, saya juga terhibur oleh kisah-kisah percobaan lari Thomas Nayoan, seorang tokoh pejuang kemerdekaan, propagandis PKI dan pemimpin surat kabar Oetoesan Minahassa yang diasingkan ke sini sesaat sebelum hendak menikah. Di sungai inilah, beberapa kisah itu hampir berhasil, meski pada percobaan terakhir Thomas Nayoan hilang bersama Saleh Rais, sementara kerabat lainnya yang mencoba kabur, Mustajab ditemukan meninggal dengan organ hati yang hilang.

Asrul menunjukkan lokasi Sungai Digoel itu kepada saya. Sungainya berarus deras dan bewarna cokelat kental. Kungfu Panda, sebuah kapal sudah bersandar di dermaga saat kami tiba. Kapal ini membawa banyak sekali semen. Belasan buruh terlihat sibuk sekali menurunkan karung-karung semen dari kapal. Saya mencoba mendekat ke dermaga, namun tiba-tiba dua orang polisi datang menghampiri dan mengintrogasi kami.

Rupanya karena kamera yang ada di tangan saya. Mereka memaksa untuk menunjukkan isi gambar yang ada di dalam kamera. Setelah saya jelaskan, mereka terlihat lebih santai dan membiarkan saya lewat tanpa harus menghapus gambar. Saya jadi curiga dan bertanya-tanya tentang legalitas aktivitas bongkar muatan dari Kapal Kungfu Panda. Saya bertanya-tanya dalam hati saja. Saya tidak ada keberanian untuk bertanya langsung kepada dua polisi yang mencegat kami.

Asrul juga mengajak saya melihat kehidupan suku Korowai, suku yang selalu diasosiasikan dengan kebudayaan membangun rumah pohon yang tinggi. Kami hanya menemukan rumahnya saja. Tidak ada penghuninya. Kami mencoba memanggil-manggil, tetapi tidak ada yang datang.

Kami berjalan-jalan sebentar di sekitar rumah pohon, kemudian bertemu dengan Perez dan Diwa, anak yang sedang memancing di sungai kecil dekat rumah pohon.

“Tra tau kakak, sa juga bukan orang sini jadi. Kita mancing saja di sini” kata Perez saat kutanya apakah dia tahu pemilik rumah pohon.

Jam 3 sore, supir mobil yang akan ke Merauke menelpon untuk menjemput saya. Saya ingin memikirkan perihal yang baik-baik saja selama di perjalanan. Misalnya, tidak akan hujan sehingga jalanan akan cukup keras dan tidak terlalu berlumpur.

Mengalami 8 jam bergoyang di tengah jalan berlumpur, membuat saya berpikiran bahwa ikhtiar pada Pancasila untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan sebuah cita-cita yang tidak akan pernah berakhir.

Saya menjadi saksi untuk ketimpangan yang saya amati di sepanjang perjalanan. Selama 73 tahun Indonesia merdeka pembangunan belum sepenuhnya menjangkau kawasan timur. Mungkin upaya desentralisasi tidaklah cukup untuk menangani luas dan perbedaan kepentingan hidup setiap suku bangsa di Indonesia.

Lantas, pekikan untuk melakukan referendum ulang dalam upaya mengambil alih kekuasaan menentukan hajat hidup mereka sendiri bisa jadi sebuah hal yang paling baik dan bijak untuk manusia dan kemanusiaan. Apa daya, membicarakan ide-ide kemerdekaan Papua selalu dituduh dengan upaya makar. Negara mengambil perannya di sini, menjadi sebuah kekuasaan yang koersif. Kita memilih tidak membicarakannya di tempat-tempat umum, setiap ide selalu coba dibungkam dengan satu motto yang menurutku sangat fanatis: NKRI Harga Mati!

Padahal jelas di dasar negara kita:

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Sekali lagi. Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa!

Lantas, apabila sebuah bangsa merasa terjajah di atas tanah mereka, apakah tidak bisa meminta dan mengupayakan kemerdekaan? Saya tahu, perdebatan ini akan panjang dan tidak akan ada habisnya. Di sepanjang 8 jam perjalanan berlumpur menuju Merauke. Saya melihat, ada kemungkinan balkanisasi bagi masa depan Indonesia. Bila terus saja, kita melihat Papua dan bangsa melanesia menggunakan kacamata penjajah.

Berkunjung ke Boven Digoel, membuat saya terpikir bahwa tempat ini adalah Rahim Ide-ide Kemerdekaan Pernah dan Masih Dibungkam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.