Sebelum mendarat di bandar udara Sentani. Dari jendela pesawat saya melihat hutan Papua mirip dengan permadani hijau raksasa yang dibentangkan Tuhan. Banyak sekali misteri yang ada di sana. Termasuk misteri keberadaan spesies burung endemik burung cendrawasih, atau yang orang-orang Eropa bilang bird of paradise!

Burung cendrawasih punya peranan penting dalam kebudayaan masyarakat Papua. Keberadaannya dielu-elukan, dimasukkan ke dalam corak batik, motif lukisan, menjadi nama universitas di Papua, dan juga sering dijumpai dalam bentuk hiasan kepala tetua adat.

Meskipun sejak 2015 sudah ada edaran dari gubernur Papua yang melarang masyarakat menggunakan atribut atau aksesoris yang menggunakan burung cendrawasih asli, kadang masih dijumpai awetan burung cendrawasih yang dijadikan mahkota dijual terang-terangan di sekitar bandara Sentani.

Suatu hari, saya menonton sebuah tayangan Kick Andi Heroes yang menampilkan figur Alex Waisimon. Tayangan itu membawa saya berkunjung ke Nimbokrang, tempat dimana Alex Waisimon membuat sebuah usaha ekowisata dan bird watching site menawarkan kesempatan bertemu dengan satwa ikonik dunia, burung cendrawasih.

Di Isyo Hills Bird Watching, pak Alex bercerita kepada saya bahwa nama Isyo diambil dari sebuah bukit sejarah di sini. Pak Alex punya motto hidup yang sederhana. Dia bilang bahwa hujan emas di negeri tetangga, masih lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Yang paling penting adalah bagaimana melihat batu ini menjadi emas.

“Hutan selalu menjadi bagian dari masyarakat Papua. Ini adalah sebuah kekayaan Tuhan yang dititipkan ke kita dan ke anak cucu kita. Dengan ekowisata ini saya ingin meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar dan membuka wawasan mereka untuk menjaga hutan agar kita bisa selalu berdampingan dengan hutan. Karena tanpa hutan, masyarakat Papua tidak bisa makan dan berbuat apa-apa.”

Kisah Pak Alex Waisimon hingga berhasil menyakinkan 10 suku di Nimbokrang untuk menyerahkan 98.000 Ha hutan adat menjadi kawasan hutan lindung dan ekowisata di tahun 2016 sungguh tidak mudah. Sebelum menjadi tempat ekowisata, pohon pohon di hutan ini ditebang untuk dijual, dan aneka satwa burung termasuk cendrawasih menjadi sasaran perburuan. Sering kali pak Alex Waisimon juga dicap orang gila karena kegiatan sehari-harinya adalah keluar masuk hutan. Bisa berhari-hari pak Alex di dalam hutan untuk mengamati kebiasaan-kebiasaan burung cendrawasih.

Kemudian melalui jejaringnya, ia memperkenalkan Rhepang Muaib kepada dunia sebagai salah satu situs untuk melakukan pengamatan terhadap burung cendrawasih. Klub-klub burung dunia pun ramai berkunjung dan pak Alex mulai mengajak masyarakat sekitar menjadi guide dan petugas yang melayani tamu-tamu yang datang ke Isyo Hills Bird Watching.

Saya pun termasuk salah satu yang tertarik menyaksikan cendrawasih di habitat aslinya.

4 Juni 2017, sore hari saya tiba di Rhepang Muaib Nimbokrang. Perjalanan memakan waktu kurang lebih dua jam untuk tiba di sini dari Kota Jayapura. Akses jalan sudah bagus, hanya beberapa bagian sedang pengaspalan. Untuk sampai di sini saya tidak memiliki informasi yang jelas mengenai alamat persis lokasinya. Berbekal informasi warga lokal, saya ditunjukkan ke sebuah tempat di pinggir jalan, yang rindang dengan halaman yang sangat terawat.

Saya disambut oleh Pak Marten yang saat itu sedang menyapu dan membersihkan daun-daun rontok di halaman. Saya utarakan maksud saya untuk melihat cendrawasih, dan memastikan sekali lagi bahwa ini benar tempat Pak Alex Waisimon.

Kebetulan pak Alex sedang ada acara keagamaan di gereja, saya dipersilahkan untuk menaruh barang dulu di bangunan yang berisi 4 buah ranjang lengkap dengan kelambu sambil menunggu pak Alex datang.

Sekitar 3 jam kemudian Pak Alex datang, ia meminta izin untuk mandi dulu baru nanti menemani saya ngobrol dan makan malam. Saya disuguhi keladi tumbuk, papeda bungkus, dan ikan kuah kuning sebagai sajian makan malam. Gurih sekali. Ini pengalaman pertama saya mencicipi keladi tumbuk. Selain suara jangkrik, suara kodok bergantian sahut-sahutan menemani suasana malam itu. Tetapi tetap favorit saya adalah suara tonggeret. Lengkaplah malam itu makan malam saya ditemani oleh Pak Alex dan suara orkestra alam.

Kami berkemas pagi sekali. Pukul 5 pagi pak Alex sudah mengeluarkan koleksi sepatu bootnya untuk mencari sepatu yang ukurannya cocok dengan kakiku. Selain pak Alex, ada juga pak Marten, asisten pak Alex.

Kami memulai perjalanan saat hari masih gelap. Kami mulai mengendap-endap ke dalam hutan yang rimbun. Pak Marten memimpin perjalanan, kemudian diikuti oleh saya dan pak Alex. Suasana sangat hening. Komunikasi hanya dilakukan seperlunya dengan cara berbisik.

Saya paham betul, salah satu risiko perjalanan ini. Saya bisa pulang tanpa berhasil melihat cendrawasih hidup bebas di habitatnya. Saya sudah mulai gusar ketika hampir setengah jam menunggu di pos pemantauan, belum terlihat ada tanda-tanda cendrawasih akan muncul. Pak Alex bilang, kalau beruntung kita bisa melihat 5 jenis spesies cendrawasih. Yah, mungkin hari ini saya tidak beruntung.

Sambil menunggu saya juga mulai mempersiapkan kamera. Tetapi, saya juga sudah siap dengan kemungkinan terburuk, mengabadikan cendrawasih dalam ingatan atau tidak sama sekali.

Tiba-tiba datang satu burung cendrawasih jenis bertengger ke batang pohon kup. Pak Alex memberikan kode untuk bersiap-siap. Jarak burung dengan kami sekitar 15 meter. Lensa saya tidak ada yang bisa menangkap gambarnya dari dekat. Saya menaruh kamera dan melihat saja dengan mata apa adanya. Kurang dari 2 menit, cepat sekali memang, burung ini terbang. Kemudian kami pun pindah ke pos pemantauan berikutnya.

Sayang sekali, pak Alex tidak bisa menemani kami ke pos pemantauan selanjutnya karena harus menghadiri acara di gereja. Saya dan pak Marten kemudian melanjutkan dan berhenti di depan pohon kup yang tinggi menjulang. Sudah ada sekitar delapan cendrawasih jenis spesies Lesser bird, jenis yang paling sering menjadi simbol burung cendrawasih ini melompat dari satu ranting ke ranting yang lain dan mengeluarkan suara khas.

wok..wok..wok..wok..kuu..kuuu..kuu

Mereka terlihat seperti memiliki empat sayap, sayap kiri-kanan dengan dua sayap berwarna kuning seperti disasak ke atas dan terjuntai indah ke bawah. Dibandingkan jenis sebelumnya yang kulihat, burung ini tidak terlalu sensitif dengan gerakan-gerakan yang kami buat. Cukup lama saya dan pak Marten bergantian binokular untuk menikmati pemandangan burung ini di atas pohon kup yang tingginya kutaksir sekitar 10-13 meter.

Karena penasaran dengan jenis lain, pertunjukan cendrawasih jambul kuning ini kami sudahi. Kami melanjutkan perjalanan ke pos pemantauan yang lain. Tapi setelah berkeliling hutan sekitar 1 jam, kami tidak menemukan burung cendrawasih lagi. Jadi hanya ada dua spesies cendrawasih yang kuamati bersama pak Marten.

Sebelum kembali ke homestay, Pak Marten mengajak saya mencari angin di sebuah bukit yang vegetasinya agak terbuka. Ternyata sudah dibuatkan semacam bangku bangku kayu untuk beristirahat. Pak Marten sambil memakan bekal sarapan menawarkan membuatkan saya kopi. Saya saat itu sedang puasa, sehingga sayang sekali tidak bisa merasakan rasanya minum kopi di habitat burung cendrawasih. Pastinya rasanya sama saja, masih rasa kopi gitu. Tapi kan kesannya beda. Persis makan popmi di pesawat, walaupun rasa popminya sama saja dengan popmi di warung, cuma kesan makan popmi di ketinggian 30.000 kaki terasa lebih sesuatu gitu. Gitu gak?

Tentunya di lain kesempatan, apabila akan berkunjung ke sini lagi membuat reservasi terlebih dahulu, sehingga bisa dipandu langsung oleh Pak Alex Waisimon. Untuk informasi lebih detail, silakan mengontak saya dan semoga kamu juga bisa melihat cendrawasih terbang bebas di habitat aslinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.