26 – 27 Juni 2017

“Untuk adikku Yudha. Saya sedang berusaha membangun jembatan antara masa kanak-kanak dan kehidupan kita saat ini. Semoga kelak tidak ada dua orang asing yang bertalian darah tinggal di atap yang sama”

Yudha lahir dengan jarak umur 12 tahun denganku. Saya sudah duduk di kelas 1 SMP saat ibu melahirkan Yudha. Tidak banyak waktu yang kita habiskan bersama. Saat Yudha asyik bermain, saya juga banyak disibukkan dengan pelbagai aktivitas pubertas.

Saya masih ingat sekali Yudha yang berusia 2 tahun digendong ibu mengantarku naik bus bersama rombongan Jambore Nasional kontingen Bulukumba berangkat ke Kiarapayung. Itu adalah kali pertama saya melakukan perjalanan jauh, dua hari saya di atas kapal Pelni Dobonsolo melihat hanya laut saja. Sejak hari itu, saya selalu ingin melihat dan berada di tempat-tempat yang jauh.

Kini, hidup berpindah-pindah adalah sesuatu yang kuakrabi. Bulukumba-Columbus-Bandung-Jakarta-Solo, dan sekarang di Jayapura. Bersamaan dengan itu, adik saya Yudha tumbuh besar dengan sedikit sekali momen yang bisa kami kenang.

Pada persimpangan usia saat ini, Yudha sudah duduk di kelas 1 SMP dan sudah cukup besar untuk saya ajak berdiskusi tentang apa saja. Saya pun merasa inilah waktu yang tepat untuk memulai perjalananan tualang bersama Yudha!

Berpetualang adalah kegiatan yang melibatkan seluruh indera. Kuharap, bisa mempererat our bounds. Saya meminta restu ibu dan bapak untuk mengajak Yudha naik gunung Bawakaraeng. Bapak sempat ragu dan khawatir karena Yudha belum pernah naik gunung. Tetapi mendekati hari keberangkatan, bapak dan ibu akhirnya memberikan restu.

Kami memulai perjalanan dengan jantung berdebar karena takut dan juga karena girang.

Ini kali pertama kami mendaki Bawakaraeng. Yudha sangat penasaran rasanya naik gunung, Saya meminta bantuan Adnan dan Iccang untuk berkenan menjadi guide kami.

Dua hari setelah lebaran, kami berkemas dibantu oleh ibu. Ibu banyak membekali kami dengan makanan-makanan khas lebaran, seperti buras, legese’, dan abon kelapa. Bapak membantu kami mengecek kondisi motor dan memastikan posisi ransel kami tidak berbahaya saat melakukan perjalanan.

Perjalanan kami mulai dari Bulukumba menuju titik pendakian di Lembanna Malino dalam waktu tempuh sekitar 7 jam perjalanan menggunakan motor. Motor saya tidak bisa pacu dengan kencang karena medan jalan kecil dan berkelok-kelok. Diperjalanan saya selalu berdoa, semoga selama perjalanan tidak ada kendala dan pulang ke rumah dengan wajah sumringah.

Kami tiba di Lembanna sekitar jam 5 sore dengan kondisi kuyup. Sudah tidak memungkinkan untuk melakukan pendakian hari itu juga. Kami pun menumpang salah satu rumah langganan Adnan dan Iccang untuk menginap satu malam dan manaruh motor kami di sana.

*****

Berfoto bersama sebelum melakukan pendakian

Dari pagi tuan rumah sudah sibuk menerima tamu, kelompok pendaki seperti kami. Walau matahari terik, tetapi suhu air masih sangat dingin sekali. Saya memutuskan untuk tetap mandi, itupun dilakukan dengan tempo yang sangat cepat. Tuan rumah tempat kami menginap, bersih-bersih dan menitip motor sangat ramah. Sebelum kami memulai pendakian, di pagi hari kami disuguhkan panganan kecil dan kopi. Tidak ada patokan berapa biaya yang harus saya bayar ke tuan rumah, hanya ada celengan untuk kita bisa berdonasi sukarela.

Memulai pendakian, irama jalan kami berantakan. Napas saya memburu tidak teratur. Saya kadang harus sesekali berhenti dan membenarkan kerel agar nyaman digendong. Pada momen seperti ini saya kadang menyesal kenapa mendaki gunung, kenapa tidak di rumah saja duduk santai menonton tv. Jalanan semakin menanjak, saya melihat Yudha sangat semangat dan lincah berjalan di setapak menuju pos 1.

Setelah berjalan kira-kira satu jam, saya sudah merasa bisa mengatur napas dan menikmati perjalanan. Hutan di gunung Bawakaraeng adalah hutan yang basah. Banyak sekali lumut menempel pada batang-batang pohon. Selepas pos 2, kami sudah tidak bisa lagi melihat atap-atap rumah warga yang tinggal di kaki gunung karena medan perjalanan kami menuju vegetasi hutan yang semakin rapat.

Saya melihat banyak sekali tanaman dengan bentuk daun yang menarik dan liar. Saya merasa beresonansi dengan tumbuhan menjalar, pohon yang menjulang tinggi, serta lumut yang menempel di batang-batang pohon. Mereka seperti punya kebebasan dan kehendak sendiri untuk tumbuh dimana saja dan tumbuh sebesar apa. Saya senang dengan kebebasan yang demikian.

Kami singgah beristrahat dan makan siang di pos 5. Udara yang dingin membuat bekal yang kami bawa dari rumah tidak cepat basi. Saya menyantap buras dan legese’ yang dibekali oleh ibu. Enak sekali!

Setelah makan, kami masih berjalan menuju pos 6. Berjalan sehabis makan siang adalah kondisi yang tidak ideal. Saya merasa mengantuk dan ingin tidur siang saja. Napas kembali memburu karena medan pendakian kini semakin terjal. Yudha sudah mulai terlihat capai tapi enggan mengeluh. Kakinya mulai diseret-seret dan sudah semakin sering berhenti untuk menarik napas.

Naik gunung juga sedikit banyak dipengaruhi oleh mental, tidak semata dipengaruhi oleh kondisi fisik. Beruntunglah kami, karena Adnan dan Iccang adalah orang-orang kuat yang punya mental positif. Kami sering disemangati dengan kata-kata:

“Ayo, sedikit lagi. Ini sudah di depan, tinggal sedikit lagi”

Menjelang sore, posisi perjalanan kami sudah semakin dekat dengan puncak Bawakareng. Kami ingin sekali bisa menyaksikan sunset dari puncak Bawakaraeng, akan tetapi ritme jalan kami terlalu lembat untuk itu. Kami berhenti sejenak di punggungan gunung menikmati matahari terbenam. Semburat warna jingga dan gumulan awan di sekitarnya membuat pergantian hari benar-benar pantas untuk dirayakan sebagai sebuah jeda.

Sore hari menuju maghrib udara menjadi semakin dingin dan angin bertiup kencang karena posisi kami sudah berada di punggungan gunung. Saya bertukar sepatu dengan Yudha, setelah sebelumnya dia terpeleset dan jatuh di sungai. Di dalam sepatu yang basah, kaki saya rasanya membeku dan mati rasa. Saya usahakan untuk terus bergerak agar bisa segera tiba di Pos 9 untuk mendirikan tenda.

Sekitar pukul tujuh malam, kami tiba di Pos 9 dan menemukan area yang lapang untuk mendirikan tenda. Adnan dan Iccang sigap membongkar tas dan mendirikan tenda mereka. Saya dan Yudha juga mendirikan tenda, tetapi tidak sesigap Adnan dan Iccang. Tangan saya mati rasa. Untuk menyimpul tali saja rasanya sudah tidak mampu. Yudha kusuruh segera ganti pakaian setelah tenda kami jadi.

Setelah dua tenda berdiri, kami memutuskan hanya menggunakan satu tenda saja untuk tidur berempat agar hangat. Tenda satunya kami jadikan tempat menyimpan tas dan bahan makanan.

Sambil Iccang menjerang air untuk membuat kopi. Saya masuk kedalam tenda berganti pakaian. Adnan kemudian saya ajak menemani berkeliling dan mencari spot untuk foto langit malam yang bertabur bintang. Yudha tidak ikut karena dia tidak kuat dengan dingin.

Dari semua foto bintang yang saya ambil, tidak ada satupun foto yang menurut saya bagus. Hampir semuanya out of focus atau shaky karena tripodnya tidak stabil saat ditiup angin.

Diperjalanan menuju tenda, saya mengira Adnan bercanda saat menawari menu makan malam pada kami. Pilihannya adalah kornet sapi atau kari ayam. What?! Saya tertawa saja. Kemudian, saat tiba di tenda Adnan mulai mengeluarkan kaleng-kaleng makanan dari tasnya sambil teliti membaca label tanggal kadaluarsa. Kaleng-kaleng tersebut adalah stok logistik Basarnas yang mestinya tidak diperjualbelikan. Tidak ada istilah kornet sapi atau kari ayam, kami memilih dan. Kornet sapi dan kari ayam adalah menu makan malam kami.

Pagi hari udara berkabut dan kami tidak bisa melihat matahari terbit. Tetapi tidak lama kemudian sekitar jam 8 pagi, langit berangsur-angsur cerah. Saya takjub sekali begitu melihat rute perjalanan kami dari puncak gunung. Kami berjalan, jauh sekali!

Saya melirik wajah Yudha pucat. Dia khawatir tidak kuat jalan pulang karena dari puncak, desa Lembanna tempat kami parkir motor terlihat jauh sekali. Yudha tampak tidak terlalu menikmati berada di puncak gunung, saya coba acuh dan tanya bagaimana perasaanya. Dia bilang sangat rindu rumah. Beruntungnya, ada sinyal di puncak gunung. Saya menelpon ibu dan bapak, membiarkan Yudha mengabarkan kondisi kami.

Jam 11 siang kami berkemas untuk kembali turun. Kami putuskan untuk sekalian makan siang agar kuat berjalan. Saya tidak ingat persis menu makan siang kami, yang pasti saya ingat menyantap bubur kacang hijau kaleng persembahan logistik Basarnas.

Perjalanan turun bagi saya lebih menantang daripada perjalanan naik, karena ankel mudah sekali terkilir menahan beban badan. Saya memastikan barang di tas Yudha tidak terlalu berat dan melakukan pemanasan sebelum mulai jalan.

Dalam perjalanan pulang ke desa Lembanna, Yudha lebih banyak diam. Saya tahu dia mungkin mau mengeluh, tapi tidak ingin menularkan energi negatif kepada kami. Saya berjalan tepat di belakang Yudha, berusaha memberikan semangat dan mengingatkan apabila dia terlalu lama berhenti agar panas tubuhnya tidak hilang.

Tiba di pos 5, Yudha minta tisu basah dan minta ditemani untuk buang air. Saya masuk ke semak-semak dan menggalikan Yudha lubang. Seketika wajahnya kembali cerah setelah buang air. Ritme langkah kami setelah Yudha buang air sangat jauh berbeda. Kini lebih cepat. Di tengah hutan yang basah seperti ini, akan sangat gelap dan menyeramkan apabila sampai malam kami belum tiba di kaki gunung.

Di perjalanan pulang, kami banyak berpapasan dengan grup pendaki yang ingin naik. Mungkin sebagian dari mereka sama seperti saya, sedang mencoba membangun cerita dan memberikan ruang untuk kenangan tumbuh. Kenangan saat kita diberi usia, diberi kesehatan oleh Allah. Dengan dua kaki yang kuat, akan sampai dimana langkah kita pacu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.