Dalam hidup, ketenangan jiwa adalah sebuah kemenangan. Mungkin banyak orang seperti saya ini. Hidup dan bernafas setiap hari bersama kegelisahan-kegelisahan. Berusaha menguliti setiap lapisan antara realita dan mimpi-mimpi yang berkelindan. Terkadang mereka adalah dua entitas yang menciptakan sebab dan akibat, terkadang pula mereka terasa seperti entitas kutub yang saling menolak. Atau mungkin juga tidak.

Saya selalu percaya, inilah kodratnya. Jalan yang ditempuh untuk mencapai tenang, kegelisahan-kegelisahan ini memang patut hadir dan mendapatkan ruang. Pun pertanyaan-pertanyaan yang beranak pinak di kepala, satu-satu mencari jawaban atau merelakan saja tanya yang tidak bertemu jawab sambil berdamai dengan yang lalu.

Tidak mudah. Ataukah memang saya yang tidak pernah cukup?

Sebuah cerita sampai ke telinga saya, tentang sebuah tempat jauh yang penuh keterbatasan. Sepupu saya Anci bergabung dalam sebuah gerakan relawan bernama Sekolah Kolong Project, dia mengajak saya melihat sekolah yang berdiri di bawah kolong rumah. Sekolah ini hidup bersama banyak cita-cita dan kisah-kisah perjuangan anak-anak muda (juga perjuangan orang tua) agar baca dan tulis menjadi hak dasar setiap orang tidak peduli bagaimanapun sukarnya.

Hari ke-2 setelah lebaran. Kami merasa cukup bertemu dengan sanak keluarga dan menyambung silaturahmi. Saya bersama Anci memutuskan tancap gas ke Tanete Bulu. Kami berkendara sekitar 2 jam dari rumah nenek di Desa Palagai, Kabupaten Maros. Jalanan menuju Tompo Bulu sebagian besar sudah beraspal. Hanya beberapa bagian yang memang rusak tapi masih bisa dilalui oleh motor.

Kami tiba di pusat kota kecamatan Tompo Bulu sekitar pukul 5 sore. Matahari hangat mengusap wajah kami yang mengerut karena silau. Kami singgah menitipkan motor di bawah rumah Haji Dg. Mangun, warga Tompo Bulu kenalan baik Anci. Seorang haji yang punya sapi raksasa di bawah kolong rumahnya. Anci bilang, harga sapinya mencapai seratusan juta. Anci juga cerita, pada hari biasa di rumah pak haji Mangun ada yang menjual es cendol seharga tiga ribu rupiah, tapi meski harganya cuma tiga ribu segarnya tiada tara. Sayangnya saya datang saat suasana lebaran. Mungkin penjual cendolnya juga sedang pulang kampung.

Saya menyuruh Anci singgah di warung sebelum kami berjalan sekitar 10 Km menuju dusun Tanete Bulu. Saya membeli air mineral, kopi, gula, indomi, dan rokok. Belanjaan kami didistribusikan secara merata ke dalam tasku dan tas Anci agar tidak terlalu berat dipikul.

Saya tidak menyimpan ekspektasi tertentu terhadap Tanete Bulu. Mungkin dari cerita-cerita Anci, ada sedikit gambaran dalam imajinasi saya tentang bagaimana Tanete Bulu atau perjalanan menuju Sekolah Kolong. Tetapi saya berusaha keras untuk membiarkannya mengalir dan bersiap untuk kejutan-kejutan di sepanjang perjalanan.

Perjalanan dimulai. Menjelang petang, kami berjalan di antara ladang jagung dan sapi-sapi peliharaan yang dibiarkan hidup bebas di sekitar ladang. Sekeliling kami dilingkupi oleh gunung dan langit yang hampir berwarna ungu. Bias-bias merah matahari pada awan-awan adalah gambaran multi-interpretasi. Sekehendak hati saya menerjemahkan mereka. Saya bisa merubahnya menjadi gambar kapak, atau gambar timba gayung, dan macam-macam lagi.

Perlahan handphone kami mulai kehilangan sinyal. Kami berjalan semakin jauh dan masuk ke dalam gunung. Kami sudah tidak berjumpa dengan ladang atau sapi. Kiri kanan kami sudah berganti dengan pohon bambu dan pohon-pohon lebat yang tidak kami tahu namanya. Sekitar 30 menit berjalan, kami bertemu dengan sungai dan jembatan kayu yang besar.

Anci menurunkan tasnya dari pundak saat kami sudah berada di atas jembatan. Bulir bulir keringat mencetak pola di punggung kaos kami. Cukup melelahkan ternyata. Di jembatan kayu kami beristrahat sambil menarik napas dan menunggu lepas maghrib.

Anci mulai mengeluarkan senter untuk dipakai berjalan. Agak lama dia mengutak-atik senternya agar bisa nyala. Senter professional katanya memang begitu. Tidak mudah dioperasikan. Saya menanggapinya sambil terus mengunyah chistik yang menjadi bekal kami. Aneh sekali, chistik ini rasanya bisa enak begini. Biasanya di rumah anta (tante) tempat chistik ini kami ambil, rasanya tidak terlalu menggugah selera. Sekarang, chistik ini menjadi primadona!

Kaki saya biarkan menggantung menghadap sungai yang tenang. Air sungai keruh dan tidak beriak. Mungkin artinya sungai ini dalam. Mungkin juga ada buayanya. Saya menyaksikan pantulan jingga di permukaan air hilang berubah menjadi hitam pekat. Satu satu bintang muncul di langit. Di bayangan saya bintang di langit adalah jerawatnya Yudha, adik saya yang kini memasuki masa puber. Tadinya hanya satu, tapi semakin lama semakin banyak.

Kami kembali melanjutkan perjalanan dengan senter di tangan masing-masing. Jalan di hadapan kami kini lebih sering berupa tanjakan. Agar tidak cepat capai, ritme langkah dan napas harus disingkronkan dengan baik. Awal-awal memang akan berat karena tubuh melakukan penyesuian. Tetapi setelah berjalan belasan menit saya menemukan ritme berjalan yang nyaman.

Mengurangi sepi di perjalanan, Anci memutar lagu Nisa Sabyan di handphone sambil berjalan. Anci berjalan di depanku dengan lincah. Saya mengikuti dari belakang, memperhatikan langkah kakinya lekat. Kami beberapa kali berhenti untuk menarik napas atau sekadar berhenti karena takjub melihat bintang yang semarak di atas kepala kami. Setiap berhenti, saya selalu tanya ke Anci berapa jauh lagi harus jalan. Dia selalu menjawab, sudah dekat.

Ternyata memang dekat. Tiba-tiba saja kami sudah sampai. Disambut anjing-anjing yang menyalak dan Anci mulai memanggil satu per satu nama muridnya ketika kami melewati rumah-rumah warga. Anci bertaruh, besok pagi akan datang anak-anak itu ke sekolah karena tahu ada guru yang datang.

Kami tiba di rumah Daeng Raga selepas Isya. Tidak ada siapa-siapa saat kami tiba. Anci bilang, mungkin dia ada di rumah Daeng Rossi atau lebih sering dipanggil Deng Oci, tetangga Daeng Raga.

Di sana saya berkenalan dengan Daeng Raga, Deng Oci dan anaknya. Paling saya ingat adalah sosok Daeng Raga yang kecil, semakin kecil dibalut oleh jaket loreng tentara yang kedodoran. Dia duduk di dekat tiang rumah sambil pelan-pelan menghisap rokok. Meski pencahayaan rumah agak remang, saya bisa menangkap kesan Daeng Raga yang murah senyum. Kumisnya menciptakan siluet walau sepertinya sudah dicukur rapih. Kumisnya sering terlihat bergerak ke samping saat berbincang, mungkin sedang tersenyum. Daeng Raga hemat dalam kata-kata. Bahasa Indonesianya pun terbata-bata, bercampur dengan Bahasa Mangkasara‘. Tawanya pecah, saat kutanya, Bapak habis tugas dimana? Saya bercanda, pura-pura mengira dia adalah seorang prajurit TNI.

Malam itu Deng Oci menyuguhkan kami makan malam, indomi goreng, telur dadar, dan ikan bolu (bandeng). Deng Oci aneh sekali saat dia bilang tidak makan telur, karena dia tidak suka bau telur. Lah, lalu telur dadar yang disajikan sekarang artinya apa? Deng Oci bilang, walaupun tidak makan telur dia masih suka memasakkan telur untuk orang-orang makan.

Kami tidak lama di rumah Deng Oci. Setelah makan malam, kami ijin pulang ke rumah Daeng Raga meluruskan badan dan beristirahat. Sederhana sekali rumah Daeng Raga. Begitu kami masuk ke rumahnya, terasa lapang karena hampir tidak ada perabotan. Istri Daeng Raga sedang tidak ada di rumah. Anci bilang istri Daeng Raga memang sesekali saja berkunjung ke sini. Banyak sekali kenapa yang ingin kutanyakan, tetapi kutahan dan berusaha menerima fakta-fakta itu demikian adanya.

Tidak ada TV di rumah Daeng Raga. Tidak ada sinyal handphone. Kami menghangatkan rumahnya dengan obrolan-obrolan. Tidak bisa apa-apa lagi selain mengobrol dan minum-minum kopi. Waktu Daeng Raga bilang dia punya sumber listrik untuk kami charge handphone, Anci paling girang. Sebelumnya tidak ada yang pernah tahu bahwa di bawah ranjang Daeng Raga ada batre panel surya, setelah diutak-atik batrei itu menyala dan berhasil mengisi daya batre handphone Anci.

Daeng Raga bercerita asal muasal sekolah di bawah kolong rumahnya. Karena letak sekolah umum sangat jauh dari Tanete Bulu, banyak anak-anak putus sekolah dan memilih membantu orang tua mereka berladang atau menjadi buruh di kota. Berangkat dari masalah ini, inisiatif untuk membangun sekolah di bawah kolong rumahnya pun muncul.

Sejak 2002, Daeng Raga membantu untuk membuat sekolah alternatif ini, Madrasah Ibtidaiyah DDI Hidayatullah. Sekolah ini tanpa dinding penyekat, berisi hanya beberapa bangku dan satu papan tulis panjang. Meski begitu, Daeng Raga dibantu masyarakat kampung Tanete Bulu selalu berusaha mengupayakan yang terbaik dalam merawat harapan agar masa depan gemilang kelak milik milik anak-anak di kampungnya. Kalau tidak mampu sekolah tinggi-tinggi, sekadar bisa baca dan tulis cukup, katanya.

Sepanjang ingatan Daeng Raga, baru ada 6 anak yang mendapatkan ijazah persamaan SD dari sekolah di kolong rumahnya. Sisanya berhenti di tengah jalan karena harus membantu orang tua berladang atau menjadi buruh di kota. Tahun ini di sekolah kolong Daeng Raga ada 28 anak dengan rentang kelas berbeda-beda. Ada kelas 1 sampai dengan kelas 6 yang diajar dalam satu ruang yang sama, berbagi guru dan berbagi papan tulis bersama.

Bukan Daeng Raga yang mengajari anak-anak. Sehari-hari, sekolah diajar oleh satu orang guru serba bisa, namanya Pak Halik. Ia mengajar semua mata pelajaran. Daeng Raga bilang Pak Halik sedang pulang kampung saat kami tanya dimana dia saat ini. Ingin juga rasanya bertemu dengan Pak Halik. Motivasi apa yang ada dalam hatinya hingga betah menjadi tenaga guru honorer di tengah-tengah gunung dengan gaji kecil. Itupun dibayarkan triwulan sekali.

Sampai larut kami mengobrol dengan Daeng Raga. Juga ditemani Daeng Beja dan Cika kucing yang biasa keluar masuk rumah tidak lewat pintu, tetapi lewat lubang kecil yang dibuat Daeng Raga pada dinding papan rumahnya. Saya dan Anci meminjam beberapa bantal dan mencari pojokan untuk kami tidur. Untuk beberapa saat saya hanya berbaring dan tidak bisa tertidur.

Keesokan harinya, saya bangun paling awal. Mendahului Anci dan Daeng Raga. Saya mengendap-endap di lantai papan menuju ke dapur untuk berwudhu. Jarang sekali saya bangun sepagi ini. Setelah sembahyang, saya bergegas mengambil kamera dan berjalan-jalan di sekitar kampung. Masih terlalu gelap untuk bisa melihat-lihat tetapi cukup jelas untuk melihat jalan setapak.

Ketika cahaya agak terang, telinga pun penuh dengan suara burung sahut-sahutan dari pohon-pohon yang tinggi. Saya bertemu dengan Daeng Beja, wanita paruh baya yang juga tetangga Daeng Raga. Dia sedang bersiap berangkat ke ladang. Di pinggangnya tersampir parang yang diikat sarung. Sekilas mirip pendekar, saya ingin iseng memanggilnya Galgadot, tapi takut nanti dia tersinggung.

Saya senang dengan pagi yang tidak terburu-buru. Pikiran-pikiran hadir dan tidak berada di tempat-tempat jauh. Anci dan Daeng Raga sudah bangun dan sedang duduk santai di teras menyeduh kopi saat saya kembali dari berjalan-jalan.

Ada juga gelas kopi untukku. Daeng Raga yang buatkan. Saya menyesap pelan-pelan kopi dan memastikan agenda Daeng Raga berjalan seperti biasa, tidak perlu ada agenda tambahan untuk menjamu kami.

Daeng Raga rupanya hari itu hanya akan menyadap nira dan membuat gula merah. Kebetulan sekali, saya juga mau lihat. Daeng Raga tidak lama-lama duduk menemani kami, mumpung belum terlalu panas dia pamit untuk berangkat ke sawah duluan. Saya dan Anci mengangguk dan berjanji akan menyusul setelah cukup berleha-leha sebentar di teras.

*****

Dugaan Anci benar. Di perjalanan menuju sawah kami berpapasan dengan Muha, Yomba, Mado dan adiknya Mutiah. Mereka dapat kabar hari itu ada guru di sekolah. Dengan pakaian seragam SD lengkap, pakai sepatu, mereka memastikan kembali kepada kami, apakah ada sekolah hari ini?

Semangat mereka bersekolah membuat saya terenyuh. Tetapi kami sudah janji ke Daeng Raga akan menemuinya di sawah dan sama-sama menyadap nira. Anci bilang ke mereka untuk datang saja ke sekolah, baca-baca buku karena kami mau ke sawah Daeng Raga. Mereka menurut saja.

Yomba, Muha, Mutiah, & Mado

Ternyata pohon nira itu bisa disadap setiap hari. Ternyata proses pembuatan gula merah itu tidak terlalu rumit tetapi tidak gampang juga. Ternyata sebelum menjadi gula, nira berubah menjadi Ballo Manis atau semacam tuak yang tidak memabukkan tetapi rasanya tidak cukup diminum kalau cuma seteguk.

Tidak banyak bantuan yang bisa saya tawarkan ke Daeng Raga selain menemaninya berbincang. Saya mencoba menyadap nira dengan menaiki bilah bambu seperti yang Daeng Raga lakukan. Tetapi, setiap saya baru berpijak di bambu, seketika batangnya menekuk dan terlihat seperti mau patah.

Memang, pekerjaan ini Daeng Raga lah juaranya. Nira yang sudah dikumpulkan dalam tabung bambu, mula-mula dikocok dan ditumpahkan semua isinya ke dalam wajan besar. Kemudian kayu dibakar di bawah wajan untuk membuat nira mendidih dan berbuih. Tidak lama waktu yang dibutuhkan sampai nira mendidih. Setelah itu, saya melihat Daeng Raga mencampurkan daun-daunan tertentu kedalam wajan. Dia bilang daunnya berfungsi membuat senyawa agar gulanya tidak kecut. Iya dong, kan namanya juga gula Daeng, bukan cuka jadi memang harus manis.

Sambil menunggu gula matang, Anci mengajak saya untuk melihat-lihat air terjun. Tidak jauh dari sawah. Ketinggian air terjun sekitar 12 meter. Sinar Matahari menembus rimbun pohon membentuk sulur-sulur cahaya. Sungguh indah.

Tidak banyak aktivitas yang kami lakukan. Setelah puas berenang, saya kemudian berbaring di atas batu yang besar. Sempat beberapa menit ketiduran. Perasaan tenang dan damai seperti ini ingin sekali kuabadikan, atau kutopleskan bersama kue-kue lebaran yang bisa dimakan atau disimpan untuk nanti-nanti.

Saya menyempatkan beberapa waktu mengingat kawan-kawan lama, yang juga pasti akan senang sekali berada di sini. Bagaimana hari-hari mereka?

Kami memutuskan meninggalkan air terjun bukan karena bosan, melainkan karena lapar. Siang itu Anci mengambil inisiatif memasak indomi untuk kami. Daeng Raga bilang dia sudah makan, jadi indominya hanya untuk kami berdua. Sederhana saja, walau hanya kombinasi Indomi, buras, dan potongan-potongan cabe tetapi terasa sangat berkesan.

Saya membereskan semua piring kotor sehabis makan. Daeng Raga terlihat sibuk menggergaji balok-balok kayu untuk bangunan baru Sekolah Kolong Project. Kali ini bangunan baru sekolah itu tidak lagi di bawah kolong. Terdiri dari dua kelas belajar. Terdapat satu tiang bendera terpancang di depan bangunan. Letaknya persis di sebelah rumah Daeng Raga. Anci bilang sebentar lagi bangunan sekolah ini jadi, tinggal pemasangan atap. Lalu, di dalam hati saya bertanya, apakah namanya tetap akan jadi sekolah kolong walau sudah tidak di bawah kolong?

Sudah sore, tetapi gula belum matang. Menunggu gula sampai matang akan membuat kami turun dari gunung jadi terlalu sore. Saya mengajak Anci untuk bergegas pulang, karena saya harus mengepak barang untuk kembali ke Jayapura. Sebelum pulang, kami berpamitan dengan Deng Oci dan anak gadis Deng Oci yang saya lupa namanya.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku mengembara kemana-mana. Bagaimana apabila memang hidup itu tidak perlu banyak syarat perihal materi dan kepunyaan. Bagaimana apabila kesuksesan itu bukan artinya kita punya banyak pilihan dan privileged untuk memilih. Toh, pada akhirnya cara berpikir seperti itu membawa kita menjalani hidup hanya untuk menciptakan pilihan-pilihan tanpa menikmati pun mendedikasi diri pada salah satu atau keduanya.

Bagaimana bila hidup seperti Daeng Raga itu cukup. Punya manfaat dan punya banyak teman.

Apakah jiwa kita baik-baik saja apabila berani untuk menggaris batasan untuk cukup. Ataukah kecukupan itu adalah hanya garis imaginer yang tidak pernah benar-benar ada.

Lantas bagaimana benar-benar yakin kalau dari seluruh kekhawatiran-kekhawatiran, hanya segelintir saja yang benar-benar harusnya kita khawatirkan. Kita terperdaya untuk membuat definisi hidup layak dengan banyak prasyarat. Apa yang salah kalau memang kita bercita-cita untuk hidup biasa-biasa saja? Apakah salah cita-cita? Apakah mereka ini perlu dikasihani?

Pada perjalanan pulang, samar-samar kesadaran itu datang. Hidup adalah tentang kesendirian dan kebersamaan. Menciptakan gembira sendiri dan menjadi berguna untuk sesama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.