Raja Ampat The Last Paradise.
Begitulah yang tertulis saat saya mencoba tag lokasi sesaat tiba di pelabuhan Waisai, Kabupaten Raja Ampat. Saya tersenyum, apakah surga yang asli juga akan panas begini?

Saya tiba sekitar pukul 11 siang setelah menempuh perjalanan dua jam menggunakan kapal cepat Belibis 8 dari Pelabuhan Rakyat, Sorong. Langit bersih tanpa awan. Pantulan sinar matahari membuat air laut terlihat sangat biru dan sepintas dari jauh kemilau keperakan menyapa, sungguh indah sekali. Saya menikmati semua pemandangan ini diiringi sebuah lagu lawas, Juwita yang dinyanyikan alm. Chrisye.

Ini adalah kali pertama saya mengunjungi Raja Ampat, sebuah kabupaten yang akrab di telinga dan juga di mata. Tidak banyak persiapan yang saya lakukan. Ini adalah sebuah perjalanan mendadak dan begitu saja, bukan dengan tujuan untuk berwisata. Saya butuh beberapa detik untuk mencoba mengumpulkan kesadaran, saya benar-benar ada di Raja Ampat saat ini, di sebuah surga terakhir.

Untuk mengunjungi seorang kawan lama.

Namanya Zhafirah Zhafarina, seorang mahasiswi Cartography & Remote Sensing UGM yang saat saya menuliskan ini sedang berada di Waisai dalam rangka KKN. Saya memanggilnya Zhazha. Saya tidak pernah menyangka, Zhazha punya keberanian untuk pergi jauh dan melihat bentang lain kehidupan di timur Indonesia.

Selepas tugas dari Fakfak, saya langsung membeli tiket ke Sorong. Tetapi sayang, pesawat saya menuju Sorong mengalami keterlambatan yang menyebabkan saya ketinggalan kapal untuk menyeberang ke Waisai. Hanya ada dua jadwal kapal setiap hari menuju Waisai dari Pelabuhan Rakyat Sorong, yakni pukul 9 pagi dan pukul 2 siang. Harga tiketnya pun lumayan terjangkau. Untuk kelas ekonomi saya membayar 100 ribu rupiah.

Karena terlambat, saya pun terpaksa menginap semalam di Sorong untuk mengejar jadwal pemberangkatan kapal keesokan harinya. Dari Pak Mustaqin, seorang tukang ojek yang baik hati saya diantar menuju sebuah penginapan bernama Srikandi.

Hal yang paling mencuri perhatianku setibanya di penginapan ini adalah sebuah tulisan Resepcionis yang mungkin maksudnya adalah Receptionist / Resepsionis. Untuk satu malam harganya murah saja, 200 ribu rupiah dengan fasilitas yang sangat terbatas, tapi lumayan nyaman.

Setibanya di Waisai,
kapten kapal mengumumkan kapal akan bersandar di lambung kiri, saya bersigap mengangkat koper, ransel, dan sekotak buah tangan yang isinya kebetulan adalah buah-buahan untuk Zhazha dan teman-temannya.

Suasana ramai. Saat keluar dari kapal, puluhan tukang ojek dan mobil rental sudah bersiap menawarkan jasa mereka. Untungnya mereka semua sangat tahu batasan. Apabila kita bilang tidak, mereka akan berhenti dan mencari calon penumpang lain.

Sinyal di Waisai sangat memudahkan saya berkoordinasi dengan Zhazha. Dia berjanji menjemput saya di pelabuhan. Tidak lebih dari 30 menit saya menunggu, Zhazha datang bersama Fahri dan Selo dengan mobil Hilux 4WD. Senyuman Zhazha ditambah keramahan Selo dan Fahri membuat cuaca di Waisai menjadi agak sedikit lebih sejuk.

Ternyata Fahri adalah orang asli Serui, Selo orang Jombang yang pernah tinggal lama di NTT, dan Zhazha adalah orang Padang bermarga Patopang. Basa-basi di awal perjumpaan ini membuat saya bisa mendapatkan sedikit gambaran tentang mereka dan topik seperti apa yang sebaiknya diperbincangkan agar suasana menjadi lebih cair

Zhazha mengajak makan siang sebelum melanjutkan perjalanan ke Teluk Mayalibit, Desa Warsambin. Kami makan di Warung Ojolali. Tidak akan kulupa!

Kenapa tidak akan lupa? Karena namanya Warung Ojolali. Menurutku sih mudah saja mengingat Warung Ojolali, karena di Waisai tidak terlalu banyak warung makan. Dan menurut Zhazha, ini adalah warung yang paling lumayan.

Setelah makan siang, Zhazha menawarkan untuk melihat tempat tinggalnya di Waisai. Sebuah bangunan kantor Pemkab Raja Ampat yang disulap menjadi rumah untuk mengakomodasi 15 orang Mahasiswa KKN.

Bangunannya cukup luas dan memanjang. Terdapat dua kamar besar tapi tidak ada ranjang atau kasur. Pada satu ruang yang paling luas di bangunan inilah mereka melakukan hampir semua aktivitas, yakni: masak, bermain werewolf, mengerjakan tugas-tugas KKN, main kartu, bernyanyi, sholat dan tidur. Sehingga membuat Zhazha berkali-kali meminta maaf atas kondisi rumah yang menurutnya berantakan. Tapi menurutku, menunjukkan kehidupan.

Sembari menunggu Fahri dan Selo mengambil motor untuk kami berangkat ke Mayalibit, saya ditemani Zhazha melakukan orientasi lingkungan sekitar. Kami bertemu anak-anak yang sedang bermain. Mereka adalah Syifa, Kia, Ian, dan Rizki. Ian adalah anak yang paling anti difoto. Saat saya mengarahkan kamera, dia langsung lari menjauh. Tetapi, lucunya Ian suka iseng-iseng merapat dan mencuri-curi kesempatan masuk ke dalam frame saat saya foto yang lain.

Kami menggunakan motor menuju Teluk Mayalibit. Saya berboncengan dengan Zhazha. Senang sekali, rasanya seperti membonceng pemandu wisata. Sepanjang perjalanan, Zhazha menjelaskan banyak tentang Waisai. Termasuk itu tentang Turki (Turunan Kiri) sebuah komplek porstitusi di tengah-tengah belantara Waisai.

Sepanjang perjalanan saya jarang sekali berpapasan dengan pengendara lain, jalanan rasanya milik sendiri. Tumbuhan belukar menutupi separuh jalan, bunga-bunga dan aneka burung sering kita jumpai terbang melintas.

Setiap pohon yang menjulang tinggi, ditutupi dengan tumbuhan lain yang bersimbiosis di hampir seluruh dahan dan batang pohon. Oleh karena itu, melintas di jalanan yang membelah hutan tropis seperti ini, rasanya seperti sedang diamati oleh manusia raksasa yang bertudung. Saya membayangkan sedang dikelilingi oleh Dementor, mahluk di film Harry Potter yang menghisap kebahagiaan. Bedanya, Dementor di Waisai justru sebaliknya, memberikan rasa gembira.

Selamat datang tenang.

Sekitar 1 jam perjalanan, kami tiba di Teluk Maylibit. Saya disambut oleh teman-teman Zhazha yang lain. Pada perkenalan pertama, sungguh susah mengingat nama mereka. Saya mencoba mengalihkan perasaan canggung bertemu banyak orang baru dengan bermain handphone. Tetapi tidak ada sinyal. Handphone hanya berfungsi untuk menunjukkan waktu, menjadi senter, kalkulator, dan kamera saja.

Bagus juga, karena tanpa handphone obrolan pun menjadi lebih hangat dan dekat. Saya berkenalan dengan Ulum, seorang selebgram yang rendah hati. Berkenalan dengan Sonda, Mira, Eka, Cathreen, Mufti, Annisa, Pras, Helmi, Otung dan banyak lagi.

Zhazha langsung mengajak untuk melihat-lihat dermaga di Teluk Mayalibit. Rasa tenang dan damai memeluk dari segala arah. Melihat kapal yang sesekali melintas atau anak-anak yang bermain dengan sampan. Saya menengok ke bawah dermaga, ikan-ikan dan terumbu karang terlihat jelas. Rasanya ingin melompat saat itu juga tapi matahari terik sekali.

Setelah selesai shalat Ashar, saya bergabung dengan yang lain mandi di teluk. Beberapa teman Zhazha ternyata belum bisa berenang, atau bisa tapi masih takut-takut. Zhazha salah satu yang belum bisa berenang. Saya lihat dia berenang sambil pegang-pegang tiang dermaga, tidak bisa jauh-jauh ke tengah.

Saya bisa berenang. Hanya bisa, belum jago. Saya berenang sampai ke tengah dan mencoba menyelam ke dasar. Ternyata dalam juga. Saya sudah kehabisan napas sebelum menyentuh dasar teluk.

Air di teluk tenang dan hampir tidak berombak. Saya sangat menikmati berenang di teluk, raga serasa didekap oleh air yang hangat, nyaman sambil melihat biru langit dan garis-garis putih awan.

Menerbangkan drone.
Saya melihat keingintahuan menyala di mata Putra, Markus, Esauw, Almendo, Mansar, dan anak-anak Kampung Warsambin saat Zhazha membuka tas besar dan memasang baling-baling drone untuk diterbangkan.

Kondisi angin tidak terlalu kencang. Dibantu oleh Helmi, mudah saja drone terbang tinggi di atas kami. Kami melambaikan tangan dan juga awa terhadap burung elang di sekitar teluk. Katanya, pernah kejadian drone jatuh disambar elang. Jadi setiap ada elang yang mendekat, kami ramai mencoba hush hush dengan gestur yang berharap dimengerti elang.

Zhazha menawariku untuk mencoba menjadi pilot drone, tetapi selalu kugoda: takut ah, dronenya belum lunas.

Setelah berjam-jam mandi di teluk, kegiatan hari itu belum berhenti. Menjelang maghrib, anak-anak dan remaja di Warsambin mengajak kami bemain bola. Saya tidak bisa bermain bola. Lebih senang menonton saja. Dan sesekali memotret sekenanya.

Tidak banyak syarat untuk gembira. Hanya butuh bola, tiang kayu sekadarnya, dan teman untuk bermain bersama.

Detak terasa lebih tenang, detik terasa lebih panjang.

Malam hari, langit cerah walaupun kadang-kadang gumpalan awan menghalangi pandang melihat bintang-bintang. Saya berbaring di dermaga menikmati angin malam dan jutaan bintang berkelip di depan mata.

Perasaan saya penuh dengan rasa gembira. Sudah lama saya tidak menikmati tenang dan sadar seperti ini. Sebuah kesadaran berada di suatu tempat dan pikiran tidak ada di mana-mana melainkan berada di sini untuk saat ini.

Menjelang dini hari, saya belum beranjak dari dermaga. Obrolan bersama Helmi, Leto, Ulum, Fahri, dan Wibi semakin seru dan sayang sekali untuk dilewatkan. Kami bercerita tentang tetralogi Pulau Buru Pramoedya. Saya tertawa ketika mendengar Helmi mengaku baca versi buku bajakan yang kertasnya kuning-kuning dan halaman sampulnya kadang ada yang kebalik-balik. Lalu membahas tentang berbagai stereotypes tentang Papua.

Ada banyak sekali tentang Raja Ampat yang tidak melulu tentang kendahan laut. Saya berkenalan dengan Markus yang mengajari saya cara mendayung walaupun akhirnya membuat perahu tetap terbalik, menemani Ruben yang semangat belajar menulis ‘S-U-N-T-U-N-G’ di bawah temaram bulan, atau kisah seru saat membeli kopi sambil berbincang dengan Pak Rahman yang gampang sekali menceritakan pengalamannya merantau di Malaysia, Brunei, sebelum akhirnya berlabuh di Warsambin.

Kebebasan mandi bertelanjang di ceruk sungai yang banyak kunang-kunang. Kenangan tentang Opung, mama yang saya temui di Warsambin yang memiliki ketulusan hati tak meminta balas.

Mungkin, terlalu banyak hal tentang Raja Ampat yang saya bawa pulang dan simpan di ingatan. Tidak melulu tentang keindahan, tetapi juga tentang perjumpaan dengan kawan lama, juga dengan kawan-kawan baru yang langsung merasa akrab.

Sebuah lagu masih terpatri diingatan saya, diajarkan oleh Wati, Sarinah, dan Mansar sebelum saya pulang ke Jayapura.

Perahu didorong, layar dikembang.
Keluar dari Raja Ampat.
Sang Dewi Laut, Sang Dewi Darat
Antarkan Persiram ke seberang.
Tambur berbunyi, Persiram maju pantang mundur.
Harus menang. Harus menang.
Persiram harus menang!

Terima kasih dan sampai berjumpa lagi Waisai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.