When The Doorman Is Your Main Man (Photo Credit: Christopher Saunders/Amazon Studios)

Serial ini diadaptasi dari kolom New York Times. Saya tidak sengaja menemukan (karena kebetulan berlangganan Amazon Prime) dan memutuskan untuk menontonnya. Saya tidak punya ekspektasi apa-apa saat menonton ini, sebuah antologi berisi 8 episode yang setiap episodenya merupakan cerita tentang cinta berdurasi sekitar 30 menit yang tidak saling berkorelasi satu sama lain (tonton trailernya di sini).

Setelah menonton 8 episode, saya ingin mengibaratkan serial ini adalah manifestasi cinta sebagai energi yang kekal. Ia adalah sebuah energi tidak bisa dimusnahkan atau diciptakan, ia hanya bisa berubah bentuk.

Cinta mungkin seperti itu. Pada episode pertama, kita akan langsung dibuat hangat (or maybe you find this as genuine tearjerker) dengan kisah paternal love antara Maggie (Cristin Milioti) dan Guzim (Laurentius Possa). Guzim adalah seorang doormen di apartemen yang dihuni Maggie. Hubungan Guzim dan Maggie tidak selalu harmonis. Guzim selalu tahu kualitas pria yang berkencan dengan Maggie dan memberikan judgement hubungan tersebut tidak akan bertahan lama.

Di lain sisi, Maggie selalu berusaha untuk membuktikan bahwa Guzim keliru. Sampai suatu ketika, Maggie tidak sengaja hamil dan terpaksa menjadi single parent atas keputusannya sendiri.

Don’t do it because you are scared. You must own your action in life
– Guzim

Guzim selalu benar. Dan ia juga selalu ada dan mendukung apapun keputusan hidup Maggie. Termasuk keputusan untuk tetap membiarkan janinnya lahir dan menjadi seorang ibu.

Ini adalah episode favoritku. Episode lain yang menurutku punya cerita yang kuat adalah episode 7: Hers Was a World of One, bercerita tentang pasangan gay yang ingin memiliki anak lewat cara adopsi, dan episode 8: The Race Grows Sweeter Its Final Lap, bercerita tentang manisnya jatuh cinta di usia senja.

Banyak sekali bentuk cinta yang belum tentu kita sadari. Ia hadir dan melingkupi kita. Pun bisa kita jumpai pada setiap kemarahan, kekecewaan, dan rasa putus asa. Bisa jadi ia adalah cinta yang sedang berbicara dalam bentuk yang lain. Kita hanya butuh untuk berserah dan berani untuk menerima perjalanan cinta setiap orang tidak mesti sama. Meski begitu, cinta dalam berbagai bentuknya selalu meninggalkan keindahan.

Saya sedikit tahu bagaimana rasanya patah hati. Kamu yang tengah patah hati, mungkin butuh menonton ini untuk sekadar menghangatkan hatimu, kemudian pelan-pelan sembuh dan berani untuk menerima cinta yang banyak bentuknya.

Selamat menonton.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.