Saya baru saja menyempatkan membaca Aruna & Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak. Seperti biasa, karya-karya Laksmi selalu berhasil membawa saya ke dalam kuantum waktu yang tidak bergerak. Saya masuk ke dalam kepala Aruna dan seolah bisa merasakan apa yang lidah Aruna rasakan.

Novel ini bercerita tentang Aruna Padmarani Rai, perempuan lajang 35 tahun, seorang ahli wabah (epidemiologist) dari NGO OneWorld yang ditugaskan melakukan investigasi pada kasus wabah Flu Burung pada manusia. Bersama Farish, dokter hewan yang bekerja untuk Direktorat Penanggulangan Wabah dan Pemulihan Prasarana (PWP2), penugasan ini mengharuskan mereka mengunjungi pasien suspek Flu Burung di Surabaya, Madura, Palembang, Aceh, Pontianak dan Singkawang. Kesempatan yang sama digunakan Aruna mengajak dua sahabatnya Bonafide Natalegawa aka Bono Chef terkenal restoran elit di Jakarta, dan Nadezhda Azhari, kolumnis dan kritikus kuliner di media nasional dan internasional untuk ikut serta sambil wisata kuliner.

Tidak sesimpel itu. Novel ini menabrakkan banyak sekali problematika hidup. Ibarat makanan, hidup dalam kompleksitas adalah sebuah kenikmatan. Hidup tidak bisa hanya berdiri pada satu entitas rasa yang tunggal. Rasa asin, kecut, atau manis saja. Makanan menjadi lezat karena rasa-rasa ini berpadu secara harmonis di piring kita.

Saya rasa, membaca novel ini di tahun 2019 terasa relevan di tengah rezim yang tidak memberikan kita harapan, dan senang mempermainkan sentimen agama untuk memperoleh dukungan agar bisa melembagakan kebijakan-kebijakan.

Makanan tidak membutuhkan ibadah dan kesetiaan, tak ganas maupun cemburu, ia bahkan tak punya teologi yang pasti, tak menyuruhmu mengadakan korban, menaruh sesaji dan melafalkan ayat-ayat suci, tak menampik penggemar menu lain apalagi menyatakannya sesat, ia merayakan panca indra dan bukan ketegaran hati dan pikiran, menerima yang tak sementara dan yang tak laras, mengelak dari satu perumusan , dan tak jarang menyajikan surga di sebuah piring“, adalah kutipan yang menurutku menjadi jantung pada novel ini.

Bersama isi kepala Aruna yang kompleks, saya merasa memiliki teman untuk percaya bahwa racikan perjalanan hidup semua orang tidak mesti dan tidak perlu mengikuti template yang sudah dikonstruk oleh masyarakat. Begitupun dengan nilai moral yang setiap orang yakini, tidak mesti seragam dan dilandaskan hanya karena takut neraka.

Misalnya, perempuan lajang usia 35 tahun dan tidak ingin menikah bukanlah sebuah kelainan. Sama seperti Mendukung poligami sekaligus menentang konsep seks harus konsensual dalam pernikahan, juga tidak sepenuhnya salah.

Makanan adalah cerminan budaya. Lewat rasa, komposisi dan tekstur makanannya, dia menceritakan lebih banyak tentang sebuah peradaban. Kita mungkin bisa menguji statement di atas dengan melakukan case study pada aneka variasi soto di nusantara.

Sehingga yang berubah dalam sudut pandangku setelah membaca Aruna dan Lidahnya, adalah toleransi pada gagasan yang dikemukakan setiap orang. Meskipun remeh, setiap gagasan dan standard moral seseorang tidak datang begitu saja, ia bercerita banyak tentang bagaimana hidup seseorang, pengalamannya, status kelas, dan privileges.

“Insting hanya bisa datang dari pengalaman; Ia tak jatuh dari langit, atau menyelusup seperti jin ke dalam tubuh, yang dengan baik hatinya mengarahkan panca indramu untuk membuat pilihan-pilihan paling jitu”

Membaca novel ini membuat saya sering lapar. Menginspirasi saya untuk berusaha lebih mindful saat makan. Mengunyah pelan-pelan dan merasakan sensasi rasa di setiap sudut lidah sambil merayakan perbedaan dalam piring. Dan semoga juga dalam kehidupan.

*****

Catatan tambahan: Novel Aruna dan Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak, secara plot dan detail cerita berbeda dengan film adaptasi Aruna dan Lidahnya yang disutradarai oleh Edwin dan naskahnya ditulis Titien Wattimena. Namun cara bercerita breaking the fourth wall membuat film ini menarik. Penyajian filmnya mantap!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.