Saya menulis ini tanpa tendensi untuk mengerdilkan upaya Bank Indonesia Provinsi Papua dalam memperkenalkan potensi kopi Papua kepada khalayak melalui event Festival Kopi Papua 2019.

Festival Kopi Papua 2019, merupakan kali kedua dilaksanakan oleh Bank Indonesia, terletak di halaman Bank Indonesia acara ini digelar pada 21-23 November 2019. Tentunya ini adalah inisatif yang baik untuk membantu petani lokal meningkatkan nilai jual kopi mereka, dan sebagai upaya agar kelompok usaha kopi di Papua bisa berjejaring dan menemukan calon pembeli sehingga secara tidak langsung juga membantu kehidupan petani kopi yang ada di Papua.

Papua adalah daerah dengan banyak varietas kopi unggulan. Kopi ini tumbuh pada ketinggian ideal dan kebanyakan dikelola secara organik. Kesulitan yang sering dihadapi oleh petani lokal adalah terkait akses untuk menjual hasil panen. Kadang biaya transportasi untuk membawa hasil kopi ke kota untuk dijual tidak kompetitif dengan harga beli pasar.

Sampai di sini, saya sangat mendukung Festival Kopi Papua menjadi ajang rutin tahunan. Setidaknya pada penyelanggaraan tahun ini, ada sekitar 40 stand yang meramaikan. Mereka datang dari berbagai kelompok usaha kopi di beberapa kabupaten di Papua. Kita pun bisa berkenalan dan mencicipi biji kopi lokal terbaik dengan cita rasa yang khas dari Kabupaten Dogiyai, Tolikara, dan Lanny Jaya.

Sangat disayangkan di tengah masifnya perda larangan kantong plastik di Jayapura, gelaran ini justru menjadi antitesis. Hampir semua stand menyajikan kopi dalam cup plastik, tidak terdapat himbauan untuk menggunakan kemasan lebih ramah lingkungan, sampah cup plastik ada di mana-mana, dan tempat sampah hampir tidak ditemukan.

Dari MC yang ada di panggung utama, saya cuma mendengar hiburan lagu-lagu, doktrin untuk mendukung industri kopi dnegan cara mengonsumsi kopi yang banyak, dan hal remeh temeh lainnya. Saya tidak mendengar himbauan kepada pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya, atau mungkin informasi bagaimana mengemas kopi dengan menarik dan ramah lingkungan (oh ini mungkin saya bermimpi terlalu tinggi).

Festival Kopi Papua 2019 adalah festival plastik. Meski begitu, saya menemukan Haven Cafe Sentani , stand yang pengemasan kopinya menggunakan botol kaca menarik yang sangat bisa digunakan kembali.

Semoga di gelaran tahun berikutnya, Bank Indonesia Provinsi Papua tidak hanya melibatkan perbankan, kelompok usaha kopi, dan menggaet coffee artist dari ibu kota. Tetapi juga mengajak Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia.

Mencontoh Synchronize Festival yang berkomitmen mengurangi volume sampah plastik dari event dengan menyerukan penggunaan tumbler pada pengunjung, saya yakin Festival Kopi Papua juga bisa seperti itu.

Pengunjung menikmati ranum biji kopi Papua dari tumbler yang dibawa masing-masing, dan panitia menyediakan water station agar tidak usah membeli air mineral kemasan di venue.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.