perasaanku ditumbuhi bunga. Mengabur dalam definisi, sebanyak apa itu banyak? Seluas apa itu luas? Seliar apa itu belukar?
demi perasaan berbunga-bunga banyak definisi pun hilang makna
meski setiap yang membara akan;
padam
mati
berganti
lalu abu
jadi debu
kau tetap dan akan selalu samudera

Kita sepakat, tanggal di kalender yang akan kita kenang dan sebisa mungkin dirayakan adalah tanggal 8, bukan 9. Aku senang dengan bentuk 8, seperti dua lingkaran berdempet, berkorelasi menjadi sebuah semantik untuk apapun yang tak terhingga dan tidak terbatas. Seperti jumlah bintang di langit ditambah dengan jumlah angan-anganku.

Aku tahu kamu lebih senang dengan tanggal 9. Katamu, angka 9 adalah nominal tertinggi dalam deret bilangan cacah. Aku tidak mengerti. Kenapa ia begitu menarik bagimu hanya karena menjadi yang tertinggi? Tapi debat kita cuma sampai di situ. Setelah itu kamu senyum karena aku bilang angka 9 letaknya selalu paling bawah di remot tv, persis di sebelah tombol volume.

Aku khawatir perihal kalimat yang sering diulang-ulang akan hilang makna. Sejauh ini, aku ingat baru mengucapkannya sekali padamu, dan kamu empat kali I Love You kepadaku. Selanjutnya dalam tulisan ini, kalimat tersebut akan kuganti dengan kata itu. Entah ada berapa banyak kuota kata itu di dunia. Kata itu seperti tidak habis-habis diumbar dalam lagu, buku-buku, dan sinema. Mungkin memang tidak terbatas. Tetapi tetap saja, aku ingin secukupnya saja. Cukup untuk menyelesaikan masalah pelik kita di masa depan, semoga juga ampuh membuat pipimu merona merah.

Aku akan selalu ingat kalau racikan nasi goreng favoritmu adalah yang asin, tidak pedas, pakai kerupuk, dan 2 telur ceplok digoreng sampai matang. Selain nasi goreng, aku juga akan ingat kamu pernah bilang chicken mozarella di Solaria, ifumi dari warung dekat kantormu, ayam cepat dari Warung Oma, dan Indomie rasa ayam bawang adalah konstelasi makanan yang kamu senangi.

Sementara itu, aku ingin melihat sejauh mana dayaku bisa memanifestasikan kata itu dalam tindakan. Semoga lebih jauh daripada kesabaranku menunggumu pulang kantor, lalu lanjut berkuliah, lalu pulang ke rumah, lalu kamu tiba di rumah tapi mesti beres-beres dulu kemudian salat, lalu kamu mungkin lapar dan masak indomie, lalu kamu cuci piring, sedangkan waktu tidak menunggu kita, ia sering meninggalkan kita dalam rentang 1 tanggalan kalender, saat kita menyempatkan bersua sebelum kamu mengakhiri hari, sedangkan di sini aku baru saja memulai hari.

Kita memilih percaya, jarak adalah ruang tempat rindu tumbuh subur tanpa disemai.

Jayapura, 14 Mei 2019

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.